Arsip untuk Kategori 'Uncategorized'

08
Jun
08

Akibat kurangnya buku-buku Geografi di Indonesia

Isi tulisan ini saya ambil dari forum “eks_KMK_Ge_UGM@yahoogroups.com”. Topik awalnya dimulai dari situs tentang geografi seperti rsgisforum.com atau geografiana.co.id yang menghilang karena kurangnya pengunjung situs tersebut. Akhirnya muncul beberapa perdebatan yang menarik yang menambah wawasan kita sebagai geografer . Satu yang menarik saya tampilkan beserta tanggapan saya di milis tersebut. Semoga rekan2 pembaca dapat lebih terpacu dan tertantang untuk mengembangkan keilmuan geografi di negara ini.

From:

Add sender to Contacts

To:
eks_KMK_Ge_UGM@yahoogroups.com

Bulan lalu saya sempat bertemu Prof. Rutherford Platt dari Department of Geography University of Massachusetts (UMass). Dia ini salah satu ahli Geografi yang sangat terkenal di US, sering dimintai pendapatnya oleh CNN dan New York Times. Sewaktu kuliah dulu di UGM aku pernah membaca bukunya di Perpus Pasca Sarjana, judulnya: Disasters and Democracy: The Politics of Extreme Natural Events. Waktu peluncuran buku terbarunya, The Humane Metropolis: People and Nature in the 21st Century City, aku datang untuk mengetahui isi kepalanya dan bagaimana dia menggunakan pendekatan geography dalam memahami Humane Metropolis.

Sebagai seorang sarjana Geografi, aku tentu ingin mengetahui mengapa Geography di US begitu maju, sekalipun studi-ku saat ini lebih fokus ke Political-Economy of Natural Resources Policy. Dalam komunikasi pribadi dengan Prof. Platt, ada 2 alasan yang dikemukakan olehnya. Pertama, Politik Keberpihakan negara pada Ilmu Geografi di US sangat tinggi. Tidak heran ketika mantan Presiden Clinton dilantik untuk kedua kalinya, dalam pidato pelantikannya dia mengatakan bahwa untuk (tetap) menguasai dunia Amerika harus (tetap) menguasai 4 ilmu dasar, yaitu Matematika, Kimia, Fisika dan Geografi. Kongkritnya, Politik Anggaran negara sangat besar untuk kajian-kajian geografi dan pengembangan jurusan geografi di kampus-kampus. Di kampus-kampus tidak ada perdebatan apakah Geografi harus masuk fakultas ilmu sosial atau ilmu eksakta, itu perdebatan tahun 60-an di US. Kebetulan di UMass masuk Faculty of Geoscience.

Kedua, menurut Prof. Plat, untuk memahami fenomena geografi tidak cukup dengan latar belakang geografi murni, diperlukan multi disiplin. Dia sendiri berlatar belakang S-1 Ilmu Politik, S-2 Hukum. dan S-3 Geografi dari Univ of Yale dan Chicago. Di US dia terkenal sebagai ahli Land and Water Resources Policy. Kemudian, dia menjelaskan bahwa komposisi dosen/peneliti di Departement of Geography UMass, tidak semua berlatar belakang Phd in Geography, ada yang Phd in Economy dengan mengampu mata kuliah Economic Geography, ada yang Phd in Political Science tapi mengajar Political Geography/Geo- Politic, ada yang Phd in Anthropology tapi ngajar Cultural Geograpaphy, ada yang Phd in Computer Science dengan mengajar Remote Sensing/GIS, ada yang Phd in Sociology dengan keahlian khusus Indigenous People dan Isu-isu Hutan/Politik Global Warming. Hebatnya lagi mereka semua menulis buku/membuat penelitian dengan pendekatan Paradigma Geografi. Jadi seorang Phd yang bukan Geografi juga mampu menulis buku dengan paradigma geografi. Pendekatan spatial, ecological dan kompleks wilayah itu (seperti yang diajarkan oleh Prof Bintarto dulu), ternyata bukan hanya domain ilmu geografi saja. Jadi apa donk domain ilmu geografi?

Satu hal lagi yang dikatakan oleh Prof. Platt, hampir seluruh dosen di Depart of Geo UMass telah menulis buku dalam rangka mengibarkan panji-panji geografi di US, sehingga mereka tidak hanya jago kandang. Ini yang mungkin jadi persoalan di Geografi UGM kita. Hanya segelintir dosen yang nulis buku Tidak aneh ketika bicara Hidrologi rujukannya selalu Teknik Sipil, ketika bicara Geomorfologi rujukannya selalu Teknik Geologi, dsb.

Yang ingin aku katakan adalah, ketidakpercayaan diri sebagian mahasiswa geografi (termasuk kita-kita dulu) adalah hal yang wajar. Disamping faktor persoalan politik keberpihakan negara, juga faktor pengibar panji-panji geografi.  Tidak percaya diri bukanlah sebuah dosa, hehehe… Iya ngak Yudho?

Salam,
Frans’90

———————————————–

From:

Add sender to Contacts

To:
eks_KMK_Ge_UGM@yahoogroups.com

Wah koyone TOPIK KITA akhir-akhir ini menghangat.. semoga saya yang sebagai mahasiswa bisa mengikuti.

Menarik komentar Bang Frans Siahaan, kalau memang banyak ilmu yang juga menggunakan pendekatan spasial, ekologikal, dan kompleks wilayah, berarti domain geografi apa donk?

Tapi, mungkin saja walaupun para penulis tersebut bukan PhD di bidang geografi, tapi pendidikan awalnya atau master mungkin saja di geografi. Soalnya dulu saya juga sempat mengoleksi download-an CV profesor atau PhD di fakultas Geografi di USA. Dalam CV2 tersebut, salah satu atau semua jenjang pendidikan dari S1, S2, S3 ada yang diambil di bidang geografi, jadi apa yang selama ini diklaim sebagai obyek formal geografi (3 pendekatan) diperoleh karena belajar telah ilmu geografi .

Satu hal yang saya bisa saya iyakan adalah minimnya kontribusi dosen-dosen di fakultas saat ini dalam menuliskan buku-buku yang bisa dinikmati kalangan umum dalam tema geografi. Ya, memang tulisan dalam bentuk jurnal ilmiah sudah sangat banyak, tapi itu hanya bisa dinikmati oleh masyarakat penggemar atau kalangan akademik khususnya geografi. Sehingga pandangan tentang geografi yang hanya What and Where seperti di kuis2 televisi, tidak (belum) bisa dikembangkan menjadi How, Why, atau Wh questions lainnya.

Termasuk aplikasi dan sintesis dari berbagai ilmu yang dipelajari di geografi yang masih sebatas lisan diberikan dalam bentuk materi dan motivasi-motivasi seperti, “nanti ini bisa diaplikasikan untuk itu,itu,itu, dan digunakan untuk pekerjaan anu, dsb,”. Miris juga mengingat ilmu geografi sangat penting (contohe di US) tapi belum banyak informasi yang bisa mentransfer pentingnya ilmu itu kepada khalayak umum.

Penggunaan buku-buku ilmu yang merupakan dasar-dasar bagi ilmu geografi seperti hidrologi, geomorfologi, buku-buku lingkungan, ataupun sosial, budaya dan politik belum bisa menunjukkan aplikasi ilmu tersebut pada 3 pendekatan geografi dan untuk sebagian besar mahasiswa masih ‘belum pede’ karena apa yang dipelajari bisa dibilang bertampalan dengan ilmu lainnya, seperti yang disebutkan Bang Frans (Bahkan setahu saya buku Dasar-Dasar Hidrologi yang ditulis Ersin Seyhan, yang jadi buku wajib di Geografi, menuliskan aplikasi hidrologi untuk kehutanan).

Kalo mau mengusulkan satu judul buku mungkin berjudul “Aplikasi Geografi Dalam Permasalahan Lingkungan”. Buku itu juga menuliskan peranan ilmu geografi yang tidak dapat dilakukan oleh disiplin lain (wah idealis sekali) …..wah bisa dibayangkan dengan banyaknya disiplin ilmu yang menjadi dasar geografi, fisik dan manusia, jumlah halamannya bisa Sak Ho Haaa…Tapi sapa tau bisa jadi buku best seller menandingi Jakarta Undercover, Jogja Undercover, Jejak anu, ato buku-buku laris lainnya..hehehe. ..

Saya mungkin merasa bersalah juga dengan ilmu yang sedang saya tekuni ini, karena bergelut dengan bumi dan isinya..hehehe. .tapi saya akui banyak sekali kekurangan dan kebingungan saya dalam berproses di ilmu geografi. Tapi tengkyu buat forum milis yang mengangkat TOPIK KITA ini. Semakin banyak partisipan aktif akan semakin banyak membuka wawasan, ato dari forum ini bakalan muncul buku tentang aplikasi geografi? Siapa tahu…

GBU

Eky Santiago
Yang sedang belajar jadi geografer… pusing euy..

TUHAN MEMBERKATI

30
Mei
08

Badak Jawa Kenali Cahaya Inframerah?

diambil dari situs http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/30/20572880/badak.jawa.kenali.cahaya.inframerah.

Jumat, 30 Mei 2008 | 20:57 WIB

JAKARTA, JUMAT – Para aktivis organisasi lingkungan World Wildlife Fund (WWF) terkesima saat melihat rekaman seekor badak Jawa yang menyeruduk kamera video trap yang mereka pasang. Bagaimana tidak sebab tak ada lampu di sekitarnya dan kamera merekam aktivitas badak menggunakan cahaya inframerah.

Pada salah satu rekaman yang diambil antara Maret-April 2008 itu, terlihat dua ekor badak di Taman Nasional Ujung Kulon, masing-masing seekor induk dan anaknya. Saat terakam keduanya tampak diam beberapa detik. Kemudian, induk badak mendekat ke arah kamera dan dalam waktu singkat langsuhg menyeruduknya.

Kamera pun mati dan rekaman berakhir. Beruntung, kamera yang dilindungi bungkus berbahan plastik tebal tahan air tersebut tidak rusak dan hanya lecet. Saat para aktivias menemukannya beberapa hari kemudian, kamera tersebut tergeletak di atas tanah.

“Mungkin karena jaraknya sangat dekat sehingga badak dapat melihat cahaya inframerah,” ujar Adhi Rachmat Hariyadi, Site Manager WWF Indonesia di TN Ujung Kulon saat mengumumkan hasil rekaman video trap pertama kehidupan badak Jawa. Namun, sampai saat ini belum dapat dipastikan mengapa induk badak tersebut seperti tahu kalau sedang direkam.

Sebab, badak-badak lain yang juga terekam pada jarak yang relatif sama tidak tampak terganggu dengan kamera tersebut. Adhi mengatakan badak yang tengah menyusui anaknya mungkin lebih peka sehingga dapat mengenali gelombang cahaya inframerah.

Untuk memastikan hal tersebut membutuhkan penelitian-penelitian lebih lanjut. Badak Jawa termasuk hewan yang masih belum banyak diteliti. Hewan tersebut pemalu dan soliter sehingga bahkan sulit untuk ditemui langsung.

Mulai tahun ini WWF dan Taman Nasional Ujung Kulon akan fokus mempelajari lebih dalam perilaku badak Jawa, seperti saat berkubang, makan, ngasin atau mendatangi laut, dan perilaku seksualnya. Untuk itu, 4 kamera video trap akan dipasang di lokasi yang sering dikunjungi badak. Ke depan pengamatan juga akan dilakukan melalui rumah pohon dan perahu.

Menurut Profesor Hadi Alikodra, Deputi Direktur Program Spesies WWF, penelitian ilmiah untuk mengungkap peran badak Jawa terhadap manusia merupakan kunci pelestarian hewan langka tersebut. Selain manfaat ilmiah, badak Jawa juga potensial sebagai objek ekowisata khas Indonesia yang hasilnya dapat dirasakan langsung masyarakat di sekitar taman nasional.

Ujung Kulon merupakan benteng terakhir badak Jawa karena 90 persen populasi dunia ada di sana. Diperkirakan ada 50 hingga 60 ekor badak Jawa di TN Ujung Kulon dan hanya beberapa di Vietnam.
WAH

08
Feb
08

Es Batu Lebih Kotor Ketimbang Air Toilet

Tulisan ini saya ambil dari milis SDM Group

Es Batu Lebih Kotor Ketimbang Air Toilet

Anda suka meminum minuman dingin dari restoran siap saji? Mulai sekarang
Anda harus berhati-hati karena lewat penelitian telah terbukti es batu
yang disediakan restoran fast food mengandung lebih banyak kuman
daripada air toilet.
Ihh…

Anda kerap merasa kurang nyaman menggunakan air yang berada di kamar
mandi umum?
Tentunya Anda tak bisa menjamin kebersihan air tersebut bukan? Tapi
apakah Anda pernah berpikir dari mana asal air yang dibekukan menjadi es
batu di restoran siap saji?

Sepertinya Anda harus mengubah anggapan bahwa es batu yang berasal dari
restoran siap saji aman untuk dikonsumsi. Sebuah penelitian baru-baru
ini membuktikan bahwa 70% es batu restoran siap saji lebih memiliki
banyak kuman dibandingkan air toilet.

Penelitian ini dilakukan oleh seorang anak perempuan yang baru berusia
12 tahun, Jasmine Roberts. Lewat penelitian ini Jasmine berhasil
mendapatkan penghargaan proyek sekolah menengah.

Jasmine membuktikan penelitian ini dengan mengambil contoh es batu dan
air toilet dari lima restoran siap saji yang berada di wilayah Florida
Selatan.
Setelah lengkap, ia melakukan pengecekan bakteri dari contoh es batu dan
air toilet itu di University of South Florida.

Dari hasil tes positif ditemukan bakteri E.coli yang biasanya terdapat
dari sisa air pembuangan yang menyebabkan timbulnya beberapa jenis
penyakit.

“Bakteri ini seharusnya tak berada di dalam es batu. Jasmine membantu
kita memperingatkan adanya bahaya kesehatan yang bisa disebabkan oleh es
batu ini,”
ungkap Dr. David Katz komtributor masalah kesehatan ‘Good Morning
Amerika’
seperti dilansir detikhot dari ABC News, Senin (27/2/2006).

Baik Jasmin dan Dr. David mengatakan bahwa es batu tersebut dinilai
lebih kotor dari air toilet karena mesin es batunya tidak bersih dan
orang menggunakan tangan yang kotor untuk mengambil es. Sedangkan air
toilet dinilai lebih bersin karena berasal dari sumber air yang telah
melalui proses penyaringan (admin – diambil dari detikHot)

Ada yang nonton acara Investigasi di TransTV kemaren sore (minggu 27 Jan
08).
Penyelidikan- penyelidikan yang kadang-kadang membuat saya ber
“NAUDZUBILLAH MINDZALIK” berkali-kali.
Setelah pengungkapan- pengungkapan peristiwa-peristiwa yang cukup
mengagetkan seperti, pemakaian boraks pada beberapa jajanan favorit
dipinggir jalan, pemakaian formalin yang berlebihan, pemakaian deterjen
pada ikan asin biar keliatan lebih bersih dan putih atau pemakaian
pewarna pada ikan kakap putih biar menjadi kakap merah yang di pasaran
lebih mahal. (sekali lagi) NAUDZUBILLAH MINDZALIK!Nah tayangan kali ini
mengungkap kasus es batu yang banyak digunakan di warung-warung seluruh
Jakarta.
Es batu ini ternyata berasal dari air sungai ciliwung yang kinclong
banget warnanya itu. Pada awalnya mereka menggunakan zat pemutih agar
air keliatan lebih jernih. Kemudian dimasukkan kedalam pendingin dan
jadilah peti-peti es yang besar dan bening. Awalnya es ini hanya
digunakan untuk mengawetkan makanan (ikan, buah dan sayuran) atau
mendinginkan minuman botol pada kotak2 yang tidak memiliki sistem
refrigerator. Tapi sialnya, para penjaja makanan dan minuman di jakarta
(bahkan warung-warung yang besar) menggunakan es ini pada minuman dingin
yang mereka jual. Es teh manis, aneka juice, es campur, es doger, dan
lainnya yang membuat kita menelan ludah ketika melihat minuman ini kala
terik menyengat.
HANYA dengan alasan MURAH, OMG!
Taukah kalian, setelah tim investigasi TransTV mencoba mengambil sampel
secara acak di beberapa penjual yang menggunakan es ini pada aneka
minuman, dan kemudian mengetesnya di laboratorium, terbukti dalam es itu
mengandung bakteri E-COLI jauh diatas batas normal (10.000 – 20.000 per
100 mL). Dengan kata lain es ini mengandung bakteri hampir setara dengan
(maaf) kotoran manusia.
Yaikksssss.. . (saya aja mau muntah ketika menulis tulisan ini) Nah…
Masih mau jajan sembarangan?
Emang Home made jauhhhhh lebih enak dan Sehat

27
Nov
07

Kehidupan Base Camp Mandiri Operasional 2007

Aksi Sok seksiBerjejer di depan BCMenunggu Kabar

02
Nov
07

nama jawa artinya apa

dari sebuah milis

 

More about nama Jawa….

Dibalik nama-nama pria Jawa sesungguhnya ada harapan tertentu dari orangtuanya, agar anaknya kelak bisa sesuai yg diharapkan:

Agar pandai menanam bunga, diberi nama Rosman.
Agar pandai membaiki mobil, diberi nama Karman.
Agar pandai dalam korespondensi, Suratman.
Semoga menjadi lelaki gagah perkasa, Suparman.
Semoga kuat dlm berjalan, Wakiman.
Agar berani bertanya, Asman.
Semoga ahli membuat kue pie, Paiman.
Semoga pandai berdagang, Saliman.
Semoga pandai melukis, Saniman.
Semoga jadi orang kaya, Sugiman.
Agar besar nanti pandai cari muka, Yasman
Biar kalau ujian boleh mengulang …. Herman
Biar jadi orang yang berwibawa …. Jaiman
Biar awet muda …… Boiman
Biar jadi tentara …. Warman
Biar jadi orang Bali …. Nyoman
Biar jadi orang Sunda …. Maman
Biar lincah seperti monyet …. Hanoman
Biar jadi orang Belanda …. Koeman
Biar tetep tinggal di Jogja …. Sleman
Biar jadi tukang sepatu handal …. Soleman
Biar tetep bisa jalan walau ndak pake mesin …. Delman

Tapi, kadang-kadang juga cerminan dari “hobi” atau “core competence”
ortunya:
 

Suka begituan, Pakman
Suka makan toge goreng, Tugiman
Selalu ketagihan, Tuman
Suka telanjang, Nudiman
Selalu sibuk terus, Bisiman
Pinter main game …. Giman
Juara cuti …. Sutiman
Juragan sate …. Satiman
Juragan trasi …. Tarsiman
Pinter memecahkan problem …. Sukarman
Pinter bikin jus …. Yusman
Pemain musik …. Basman

suka ke bar ….barman

suka asinan….asiman