Isi tulisan ini saya ambil dari forum “eks_KMK_Ge_UGM@yahoogroups.com”. Topik awalnya dimulai dari situs tentang geografi seperti rsgisforum.com atau geografiana.co.id yang menghilang karena kurangnya pengunjung situs tersebut. Akhirnya muncul beberapa perdebatan yang menarik yang menambah wawasan kita sebagai geografer . Satu yang menarik saya tampilkan beserta tanggapan saya di milis tersebut. Semoga rekan2 pembaca dapat lebih terpacu dan tertantang untuk mengembangkan keilmuan geografi di negara ini.
Bulan lalu saya sempat bertemu Prof. Rutherford Platt dari Department of Geography University of Massachusetts (UMass). Dia ini salah satu ahli Geografi yang sangat terkenal di US, sering dimintai pendapatnya oleh CNN dan New York Times. Sewaktu kuliah dulu di UGM aku pernah membaca bukunya di Perpus Pasca Sarjana, judulnya: Disasters and Democracy: The Politics of Extreme Natural Events. Waktu peluncuran buku terbarunya, The Humane Metropolis: People and Nature in the 21st Century City, aku datang untuk mengetahui isi kepalanya dan bagaimana dia menggunakan pendekatan geography dalam memahami Humane Metropolis.
Sebagai seorang sarjana Geografi, aku tentu ingin mengetahui mengapa Geography di US begitu maju, sekalipun studi-ku saat ini lebih fokus ke Political-Economy of Natural Resources Policy. Dalam komunikasi pribadi dengan Prof. Platt, ada 2 alasan yang dikemukakan olehnya. Pertama, Politik Keberpihakan negara pada Ilmu Geografi di US sangat tinggi. Tidak heran ketika mantan Presiden Clinton dilantik untuk kedua kalinya, dalam pidato pelantikannya dia mengatakan bahwa untuk (tetap) menguasai dunia Amerika harus (tetap) menguasai 4 ilmu dasar, yaitu Matematika, Kimia, Fisika dan Geografi. Kongkritnya, Politik Anggaran negara sangat besar untuk kajian-kajian geografi dan pengembangan jurusan geografi di kampus-kampus. Di kampus-kampus tidak ada perdebatan apakah Geografi harus masuk fakultas ilmu sosial atau ilmu eksakta, itu perdebatan tahun 60-an di US. Kebetulan di UMass masuk Faculty of Geoscience.
Kedua, menurut Prof. Plat, untuk memahami fenomena geografi tidak cukup dengan latar belakang geografi murni, diperlukan multi disiplin. Dia sendiri berlatar belakang S-1 Ilmu Politik, S-2 Hukum. dan S-3 Geografi dari Univ of Yale dan Chicago. Di US dia terkenal sebagai ahli Land and Water Resources Policy. Kemudian, dia menjelaskan bahwa komposisi dosen/peneliti di Departement of Geography UMass, tidak semua berlatar belakang Phd in Geography, ada yang Phd in Economy dengan mengampu mata kuliah Economic Geography, ada yang Phd in Political Science tapi mengajar Political Geography/Geo- Politic, ada yang Phd in Anthropology tapi ngajar Cultural Geograpaphy, ada yang Phd in Computer Science dengan mengajar Remote Sensing/GIS, ada yang Phd in Sociology dengan keahlian khusus Indigenous People dan Isu-isu Hutan/Politik Global Warming. Hebatnya lagi mereka semua menulis buku/membuat penelitian dengan pendekatan Paradigma Geografi. Jadi seorang Phd yang bukan Geografi juga mampu menulis buku dengan paradigma geografi. Pendekatan spatial, ecological dan kompleks wilayah itu (seperti yang diajarkan oleh Prof Bintarto dulu), ternyata bukan hanya domain ilmu geografi saja. Jadi apa donk domain ilmu geografi?
Satu hal lagi yang dikatakan oleh Prof. Platt, hampir seluruh dosen di Depart of Geo UMass telah menulis buku dalam rangka mengibarkan panji-panji geografi di US, sehingga mereka tidak hanya jago kandang. Ini yang mungkin jadi persoalan di Geografi UGM kita. Hanya segelintir dosen yang nulis buku Tidak aneh ketika bicara Hidrologi rujukannya selalu Teknik Sipil, ketika bicara Geomorfologi rujukannya selalu Teknik Geologi, dsb.
Yang ingin aku katakan adalah, ketidakpercayaan diri sebagian mahasiswa geografi (termasuk kita-kita dulu) adalah hal yang wajar. Disamping faktor persoalan politik keberpihakan negara, juga faktor pengibar panji-panji geografi. Tidak percaya diri bukanlah sebuah dosa, hehehe… Iya ngak Yudho?
Salam,
Frans’90
———————————————–
Wah koyone TOPIK KITA akhir-akhir ini menghangat.. semoga saya yang sebagai mahasiswa bisa mengikuti. 
Menarik komentar Bang Frans Siahaan, kalau memang banyak ilmu yang juga menggunakan pendekatan spasial, ekologikal, dan kompleks wilayah, berarti domain geografi apa donk?
Tapi, mungkin saja walaupun para penulis tersebut bukan PhD di bidang geografi, tapi pendidikan awalnya atau master mungkin saja di geografi. Soalnya dulu saya juga sempat mengoleksi download-an CV profesor atau PhD di fakultas Geografi di USA. Dalam CV2 tersebut, salah satu atau semua jenjang pendidikan dari S1, S2, S3 ada yang diambil di bidang geografi, jadi apa yang selama ini diklaim sebagai obyek formal geografi (3 pendekatan) diperoleh karena belajar telah ilmu geografi .
Satu hal yang saya bisa saya iyakan adalah minimnya kontribusi dosen-dosen di fakultas saat ini dalam menuliskan buku-buku yang bisa dinikmati kalangan umum dalam tema geografi. Ya, memang tulisan dalam bentuk jurnal ilmiah sudah sangat banyak, tapi itu hanya bisa dinikmati oleh masyarakat penggemar atau kalangan akademik khususnya geografi. Sehingga pandangan tentang geografi yang hanya What and Where seperti di kuis2 televisi, tidak (belum) bisa dikembangkan menjadi How, Why, atau Wh questions lainnya.
Termasuk aplikasi dan sintesis dari berbagai ilmu yang dipelajari di geografi yang masih sebatas lisan diberikan dalam bentuk materi dan motivasi-motivasi seperti, “nanti ini bisa diaplikasikan untuk itu,itu,itu, dan digunakan untuk pekerjaan anu, dsb,”. Miris juga mengingat ilmu geografi sangat penting (contohe di US) tapi belum banyak informasi yang bisa mentransfer pentingnya ilmu itu kepada khalayak umum.
Penggunaan buku-buku ilmu yang merupakan dasar-dasar bagi ilmu geografi seperti hidrologi, geomorfologi, buku-buku lingkungan, ataupun sosial, budaya dan politik belum bisa menunjukkan aplikasi ilmu tersebut pada 3 pendekatan geografi dan untuk sebagian besar mahasiswa masih ‘belum pede’ karena apa yang dipelajari bisa dibilang bertampalan dengan ilmu lainnya, seperti yang disebutkan Bang Frans (Bahkan setahu saya buku Dasar-Dasar Hidrologi yang ditulis Ersin Seyhan, yang jadi buku wajib di Geografi, menuliskan aplikasi hidrologi untuk kehutanan).
Kalo mau mengusulkan satu judul buku mungkin berjudul “Aplikasi Geografi Dalam Permasalahan Lingkungan”. Buku itu juga menuliskan peranan ilmu geografi yang tidak dapat dilakukan oleh disiplin lain (wah idealis sekali) …..wah bisa dibayangkan dengan banyaknya disiplin ilmu yang menjadi dasar geografi, fisik dan manusia, jumlah halamannya bisa Sak Ho Haaa…Tapi sapa tau bisa jadi buku best seller menandingi Jakarta Undercover, Jogja Undercover, Jejak anu, ato buku-buku laris lainnya..hehehe. ..
Saya mungkin merasa bersalah juga dengan ilmu yang sedang saya tekuni ini, karena bergelut dengan bumi dan isinya..hehehe. .tapi saya akui banyak sekali kekurangan dan kebingungan saya dalam berproses di ilmu geografi. Tapi tengkyu buat forum milis yang mengangkat TOPIK KITA ini. Semakin banyak partisipan aktif akan semakin banyak membuka wawasan, ato dari forum ini bakalan muncul buku tentang aplikasi geografi? Siapa tahu…
GBU
Eky Santiago
Yang sedang belajar jadi geografer… pusing euy..
TUHAN MEMBERKATI