Di saat-saat tersulit, Allah sumber kekuatan terbaik
Berdasarkan pada buku renungan Saat Teduh, tanggal 2 April 2009, pembacaan Alkitab menuntun saya pada kisah Ayub di Kitab Ayub 2:1-10. Kisah ayub menjadi begitu luar biasa,karena ini menunjukkan bagaimana sebenarnya Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk dihantam oleh pencobaan. Bahkan Ia mngijinkan Iblis untuk menggoda kita.
Pada kenyataannya, melalui penyelamatan Yesus Kristus, Iblis tidak akan sanggup mengambil kita dari pelukan Bapa, akan tetapi berbagai godaan yang diperlihatkan kepada kita sering membuat kita menoleh, lupa siapa yang sedang kita peluk dan terpukau oleh godaan itu. Di lain kasus, terkadang Tuhan sendiri ingin mengajar kita, bagaimanya caranya nebgandalkan kekuatannya untuk mengalahkan Iblis. Allah melepaskan kita dari pelukan, membawa kita melihat-lihat godaan itu, dan menggunakan anugrah kebebasan memilih yang diberikaNya pada kita. Apa yang nantinya akan menjadi pilihan kita,kembeli ke pelukanNya, atau malah jatuh semakin jauh mengikuti godaan dan tidak pernah kembali, padahal Ia begitu mengasihi dan menyayangi kita.
Kisah pasal 2 kitab Ayub, dibuka dengan Iblis yang mucul bersama dengan anak-anak Allah (ay.1). Kemudian Tuhan bertanya, “ Dari mana engkau?”
Iblis menjawab, “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajahi bumi.”(ay.2)
Allah kemudian bertanya pada Iblis, apakah Iblis melihat Ayub, hambaNya yang saleh. Allah sangat gembira dengan kesalehan Ayub, dan ia tidak mau terbujuk permintaan Iblis yang tanpa alasan untuk melepaskan Ayub agar celaka.
Iblis ternyata memiliki alasan yang akhirnya dipenuhi Allah, yaitu bagaimana sikap Ayub apabila ia celaka, apakah Ayub akan mengutuk Tuhan? (Kata Iblis),” Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapanMu.” (ay 5)
Di sinilah tampak, bahwa terkadang Allah punya rencana bagi kita. Setelah mendapatkan begitu baya berkat bersama-sama dengan Dia, ada saat Allah mau melepaskan kita dari pelukanNya, untuk melihat dan merasakan permainan Iblis. Apakah kita akan mengutuk atu tetap setia kepadaNya. Akan tetapi Allah tetapi, Allah selalu mengasihi kita. “Ia (Ayub) dalam kuasamu (Iblis); hanya sayangkan nyawanya ”(ay. 6). Ya, Allah tidak memperbolehkan Iblis mengambil nyawa Ayub. Karea Ialah yang memiliki hak atas kehidupan kita.
Iblis kemudian mendatangkan cobaan dan penyakit yang luar biasa, yang bukan hanya mematikan secara jasmani, tapi juga mental dan harga diri. Ayub bahkan menggunakan beling untuk menggaruk luka-lukanya (Ay.8). Bayangkan bagaimana bisul digaruk dengan beling yan tidak steril. Bukannya sembuh, malah penyakit yang dialaminya semakin memburuk. Kesakitan jasmani, disusul dengan kesakitan mental dan jatuhnya harga diri Ayub. Istrinya berkata,”Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu ? Kutukilah Allahmu dan matilah !”(Ay.9). Jelas Istrinya semakin frustasi dan malu, Ia bahkan mengajak Ayub meninggalkan Tuhan karena penderitaan mereka.
Walaupun jasmani, mental, dan harga diri Ayub dijatuhkan sedemikian hebat, sedemikian hebat pula Imannya pada Allah. Ayub tidak mau mati rohani. Ia tetap percaya, Tuhan yang memberikan kesempatan untuk menghadapi semua bencana itu.
“Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Kata Ayub kepada Istrinya (Ay.10). Bahkan di dalam bencana, tidak ada dosa yang keluar dari bibirnya, apalagi kutuka terhadap Tuhan.
Sungguh, satu penyerahan diri yang luar biasa. Suatu keyakinan yang merupakan gabungan antara iman dan pikiran hasil pengalaman Ayub bergaul dengan Allah. Tidak sedikitpun hatinya mau berlari dari pada Allah. Kalaupun Ayub kemudian (di bagian selanjutnya di kitab Ayub) mengeluh kepada Allah, penghormatan tetap Ia tunjukkan, karena kepercayaannnya pada Allah.
Di akhir kisah Ayub, setelah mengalami kejatuhan yang luar biasa, Allah yakin bahwa Ayub tetap saleh. Ia kemudian menyuruh Iblis menghentikan permainannya, dan kembali mamanggil Ayub ke dalam pelukanNya, yang sangat di rindukan Ayub.
Kisah Ayub ini, merupakan satu kesaksian, fakta, bahwa penyertaan Tuhan dan kasihNya pada kita tidak dapat direbut oleh siapa pun. Mungkin, saat ini kita (saya) ada dalam kehidupan yang nyaman saat ini. Tapi bagaimana kalau tuhan memberikan cobaan dalam kehidupan ini? Apakah anugrah kebebasan memilih yang Tuhan berikan akan kita pakai untuk memilih mengutuk dan meninggalkan Dia? Saya (kita) yakin, dan harus yakin, bahwa kasih Tuhan selalu sama dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya. Dulu Ia mengasihi Ayub, Dia mengasihi kita di masa lalu kita, dan sekarang, Dia tetap mengasihi kita. Di masa mendatang? Ya..Allah telah berjanji, dan apapun yang terjadi, jika kita fokus pada Allah, Ia akan menepati janjiNya.
Tetapi kawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karuia-Ku bagimu, sebab, justru dalam kelemahankah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12 : 9)
Tuhan Memberkati
0 Tanggapan ke “PROPOSAL IBLIS DAN KEMURAH HATIAN ALLAH”