Akhir minggu kemarin ditutup dengan dua peristiwa duka. Yang pertama, bagi semua penggemar AC Milan, tidak ada alasan yang jelas, mengapa untuk kesekian kalinya di liga Italia sejak 28 April Milan tidak bisa menang di kandang sendiri saat partai Liga Italia? Apa Milan sudah harus pindah kandang, atau tidak usah punya kandang tetap mengingat kemenangan terjadi di luar kandang dan dengan skor yang dikatakan dalam situs www.acmilan.com sebagai hurricane (badai)?
Tidak tahu kapan Kaka cs. bisa memuaskan publik pengunjung San Siro yang saat ini lebih sering mencemooh dibanding mendukung kerja keras mereka, yang berujung pada ketumpulan. Semoga kehadiran Ronaldo di lini depan akan membantu Carlo Ancelotti untuk meramu strategi yang lebih kreatif untuk membongkar pertahanan super difensif yang selalu diperagakan tim-tim lawan saat bertanding di Giuseppe Meazza.
Peristiwa duka kedua memang benar-benar duka, yang kudengar saat menginjakkan kaki di kampus selepas pulang dari lereng Gunung Merbabu. Yang mana salah satu tenaga pengajar di kampus kami (Geografi UGM), Rino Cahyadi, S Si., dipanggil ke alam abadi dalam sebuah kecelakaan di Thailand, minggu sore kemarin. Bersama dia, juga ikut 3 dosen Geografi lainnya dalam satu kapal.Kepergian mereka ke Thailand adalah dalam rangka melaksanakan kegiatan simposium mengenai geomorfologi kawasan pesisir. Kecelakaan terjadi saat kapal yang ditumpangi mengalami kecelakaan saat berada di muara kanal.
Berita pada awalnya sangat simpang siur. Ada yang menyatakan jenazah Rino sudah diketemukan, dan yang 3 orang selamat. Yang lain bilang Rino yang selamat, 3 lainnya meninggal, dan beberapa versi lainnya. Yang benar ternyata yang pertama.
Usut punya usut, ternyata beberapa faktor penyebab terjadinya kecelakaan yang juga merenggut nyawa 2 peserta asal Thailand. Pertama, muatan kapal yang sangat melebihi kapasitas. Dari keterangan yang ada, muatan kapal seharusnya hanya 17 orang, tetapi saat field trip berlangsung, semua peserta sebanyak 30 orang ‘diusahakan’ untuk bisa muat dalam kapal itu. Kondisi ini jelas sangat sangat berbahaya. Selain resiko kecelakaan, rusaknya kapal dan tenggelam, kalaupun disediakan pelampung (life vest) jumlahnya hanya sesuai kapasitas. Dalam hal ini, dimana kecermatan panitia penyelenggara dalam merencanakan kegiatan ini dengan hanya menyediakan 1 kapal untuk semua peserta? Untuk kasus ini, kelebihan muatan sangatlah kelewatan karena hampir mencapai dua kali lipatnya.
Kedua, di tengah perjalanan, kapal yang melaju kencang menabrak bagian tiang listrik yang patah. Apakah disebabkan oleh kondisi cuaca atau pandangan nakodha kapal yang tertutup banyaknya penumpang, yang jelas lambung kapal akan pecah saat menabrak benda tersebut. Yang menjadi pertanyaan apakah tidak ada survey dari panitia sehingga posisi-posisi yang berbahaya itu tidak diketahui, disamping kendala cuaca atau posisi nakodha di kapal?
Ketiga, ada kabar Rino sempat berenang mencoba menyelamatkan diri akan tetapi arus turbulensi yang kuat di daerah muara (estuari) membuat usaha itu sia-sia. Hal ini menjadi penyebab korban kehabisan nafas dan tenaga sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Pada beberapa kasus, orang-orang yang tidak bisa renang malah sering selamat saat ‘pasrah’ akan kekuatan arus, sehingga tenaga yang dikeluarkan sedikit. Ditambah kemampuan untuk menguasai diri dari rasa panik harus dimiliki agar tetap berpikiran jernih di saat yang paling genting sekalipun.
Sebenarnya pertanyaan-pertannyaan di atas bukan berarti saya lebih ahli. Dalam tulisan ini posisi saya memang hanya sebagai penerima informasi yang pastinya tidak 100% keakuratannya. Pertanyaan dan tanggapan pun bukan untuk melihat kesalahan, tapi untuk meyakinkan diri saja bahwa kegiatan di luar ruangan (outdoor) merupakan kegiatan yang penuh dengan tanda tanya, bahkan saat kita menganggap telah menguasai 95% wilayah operasional, 5% sisanya bisa menjadi faktor error yang akan mempengaruhi bahkan sisa hidup kita.
Menilik peristiwa tersebut, terbayang lagi bahwa setiap rencana kita, seoptimis apapun atau selengkap apapun sumberdaya yang kita miliki, penting sekali untuk melibatkan TUHAN dan senantiasa bersyukur untuk setiap hal dan kesempatan untuk melakukan setiap karya dalam rencana dan seluruh kehidupan kita. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi ? Apakah kita dapat melakukan rencana kita? Apakah yang akan terjadi ditengah-tengah rencana kita? Atau apa yang terjadi bahkan 1 jam setelah membaca tulisan ini?
Meninjau dari Kitab Suci, selalu diingatkan untuk bersyukur senantiasa dan melibatkan Allah dalam setiap langkah yang kita jalani, dan nafas yang kita ambil. Yakobus 4 : 13 – 17 berujar demikian:
Jangan melupakan TUHAN dalam perencanaan
13 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”,
14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
15 Sebenarnya kamu harus berkata: “ Jika TUHAN menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”
16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.
17 Jadi jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbua baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.
Nyata sekali bahwa sebenarnya apa yang kita ketahui tentang masa depan? Yang ada kita berdosa saat menganggap diri kita mampu untuk melakukan berbagai hal dengan kekuatan kita sendiri, atau dengan kekuatan manusia tanpa melibatkan TUHAN. Berserah , meminta kekuatan untuk melakukan yang terbaik, tidak jatuh saat kita gagal, berusaha bangkit saat terpuruk, dan selalu bersyukur dengan kerendahan hati adalah kunci sehingga kita dapat selalu menghargai setiap keadaan yang kita alami dan miliki.
Kejadian di Thailand memang merupakan hal yang tragis dan memilukan. Akan tetapi kita juga yakin bahwa kejadian seperti itu tidak menentu terjadinya, tidak setiap jam atau setiap hari. Malahan lebih tragis saat kita dikuasai ketakutan untuk pergi ke suatu tempat yang seharusnya merupakan panggilan kita untuk berkarya dan berbagi berkat dan syukur yang kita miliki dengan sesama.
Untuk teman-teman geografi, teman-teman yang bergerak di bidang kebumian dan lingkungan agar tidak melihat peristiwa ini sebagai suatu hal yang menakutkan, dan membuat kita ciut khususnya dalam melakukan kegiatan lapangan di lokasi yang sama sekali belum kita ketahui. Tetapi, dapat menjadi tantangan bagi kita, agar dalam setiap kegiatan kita berlatih untuk mengumpulkan setiap informasi sedetil-detilnya tentang wilayah tersebut (bahkan sampai lokasi penjual kerupuk….he), mencermati setiap sarana dan prasarana kegiatan, dan selalu mengutamakan keselamatan personel di atas segalanya. Terpenting adalah bersyukur dan melibatkan Allah.
Berhubungan dengan celaka, apakah rumah kita adalah tempat yang paling aman? Dalam buku 7 Habit bagian ‘Keluar Dari Ruang Nyamanmu’, dikatakan bahwa kematian di kamar mandi merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Amerika. So, apakah rumah jadi tempat yang aman, tenyata itu bukan pernyataan yang tepat juga. Akhir kata ada sebuah kalimat yang diucapkan Peter Hillary, anak Edmund Hillary, yanng memuncaki Gunung Everest pertama kali bersama Tenzing Norgay. Kalimatnya berbunyi demikian:
“Do everything with passion, life is short”
TUHAN MEMBERKATI
bagus sekali dengan tulisan2mu….aku suka banget..ternyata punya bakat juga menulis. apalagi dengan “refleksi wafatnya rino”. yang harusnya kita takuti bukanlah kematian tetapi kelahiran. karena kelahiran adalah awal dari penderitaan akan dimulai…